Pages

Rabu, 10 April 2013

PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS URINE


Yang dimaksud dengan pemeriksaan mikroskopik urine yaitu pemeriksaan sedimen urine.
Ini penting untuk mengetahui adanya kelainan pada ginjal dan saluran kemih serta berat ringannya penyakit.
Urine yang dipakai ialah urin sewaktu yang segar atau urine yang dikumpulkan dengan pengawet formalin.

Pemeriksaan sedimen dilakukan dengan memakai lensa objektif kecil (10X) yang dinamakan lapangan penglihatan kecil atau LPK.

Selain itu dipakai lensa objektif besar (40X) yang dinamakan lapangan penglihatan besar atau LPB.

Jumlah unsur sedimen bermakna di laporkan secara semi kuantitatif,yaitu : Jumlah rata-rata per LPK untuk silinder dan per LPB untuk eritrosit dan leukosit.

Unsur sedimen yang kurang bermakna seperti epitel atau kristal cukup dilaporkan dengan :
+ (ada),
++ (banyak)
+++ (banyak sekali).
Unsur sedimen dibagi atas dua golongan yaitu :
* unsur organik
* non organik.

Unsur organik berasal dari sesuatu organ atau jaringan antara lain epitel, eritrosit, leukosit, silinder, potongan jaringan,sperma, bakteri, parasit dan yang tak organik tidak berasal dari sesuatu organ atau jaringan.seperti urat amorf dan kristal
Eritrosit atau Leukosit didalam sedimen urine mungkin terdapat dalam urin wanita yang haid atau berasal dari saluran kernih.

Dalam keadaan normal tidak dijumpai eritrosit dalam sedimen urin, sedangkan Leukosit hanya terdapat 0 - 5/LPK dan pada wanita dapat pula karena kontaminasi dari genitalia.

Adanya eritrosit dalam urine disebut hematuria.
Hematuria dapat disebabkan oleh perdarahan dalam saluran kemih, seperti infark ginjal, nephrolithiasis, infeksi saluran kemih dan pada penyakit dengan diatesa hemoragik.

Terdapatnya Leukosit dalam jumlah banyak di urin disebut piuria.
Keadaan ini sering dijumpai pada infeksi saluran kemih atau kontaminasi dengan sekret vagina pada penderita dengan fluor albus
Epitel merupakan unsur sedimen organik yang dalam keadaan normal didapatkan dalam sedimen urin.

Dalam keadaan patologik jumlah epitel ini dapat meningkat, seperti pada infeksi,radang dan batu dalam saluran kemih.

Pada sindroma nefrotik di dalam sedimen urin mungkin didapatkan oval fat bodies. Ini merupakan epitel tubuli ginjal yang telah mengalami degenerasi lemak, dapat dilihat dengan memakai zat warna Sudan III/IV atau diperiksa dengan menggunakan mikroskop polarisasi.
Kristal dalam urin tidak ada hubungan langsung dengan batu didalam saluran kemih.

Kristal asam urat, kalsium oksalat, triple fosfat dan bahan amorf merupakan kristal yang sering ditemukan dalam sedimen dan tidak mempunyai arti, karena kristal-kristal itu merupakan hasil metabolisme yang normal.
Terdapatnya unsur tersebut tergantung dari jenis makanan, banyak makanan, kecepatan metabolisme dan kepekatan urine.

Disamping itu mungkin didapatkan kristal lain yang berasal dari obat -obatan atau kristal-kristal lain seperti kristal tirosin, kristal leucin.
Silinder adalah endapan protein yang terbentuk didalam tubulus ginjal, mempunyai matrix berupa glikoprotein (protein Tamm Horsfall) dan kadang-kadang dipermukaannya terdapat leukosit, eritrosit dan epitel.

Pembentukan silinder dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain osmolalitas, volume, pH dan adanya glikoprotein yang disekresi oleh tubuli ginjal.

Dikenal bermacam-macam silinder yang berhubungan dengan berat ringannya penyakit ginjal. Banyak peneliti setuju bahwa dalam keadaan normal bisa didapatkan sedikit eritrosit, lekosit dan silinder hialin. Terdapatnya silinder seluler seperti silinder lekosit, silinder eritrosit, silinder epitel dan sunder berbutir selalu menunjukkan penyakit yang serius.

Pada pielonefritis dapat dijumpai silinder lekosit dan pada glomerulonefritis akut dapat ditemukan silinder eritrosit.
Sedangkan pada penyakit ginjal yang berjalan lanjut didapat silinder berbutir dan silinder lilin.


Jumat, 05 April 2013

MEDIA GULA-GULA


 
  • Komposisi :

      Air pepton                6 gram
NaCl                         3 gram
Aquadest                  600 ml
Gula glukosa            1 gram
  •   Mekanisme :

Untuk mengetahui bakteri memfermentasi karbohidrat. Pada uji gula-gula hanya terjadi perubahan warna pada media gula-gula yang berubah menjadi warna kuning, artinya bakteri ini membentuk asam dari fermentasi glukosa. Pada media gula-gula  juga terbentuk gelembung pada tabung durham yang diletakan terbalik didalam tabung media, artinya hasil fermentasi berbentuk gas.

2.      
6.      Daftar Pustaka :

BAFER FOSFAT


BAB I
PENDAHULUAN

Istilah bufer menjelaskan substansi kimia yang mengurangi perubahan pH dalam larutan yang disebabkan penambahan asam maupun basa. Bufer adalah campuran asam lemah dan garam basanya (basa lemah dan garam asamnya). Bufer akan sangat efektif dalam mempertahankan [H+] terhadap asam atau basa, jika bufer tersebut terurai 50% (mempunyai jumlah asam belum terurai yang sama dan garamnya). Kadar pH pada keadaan asam atau basa yang 50%-nya terurai disebut pK dari bufer itu. Keefektifan suatu bufer ditentukan oleh kadar dan pKnya, efektif terhadap komponen tempat bufer itu bekerja (Price & Wilson, 2006).
Pendaparan tidak menghilangkan H+ dari tubuh. Untuk sementara, dapar sedikit membersihkan setiap H+ yang diproduksi, seperti sebuah sepon yang menyerap air. Pendaparan hanya merupakan solusi jangka pendek untuk mengatasi masalah kelebihan H+. Pada akhirnya tubuh harus mengeluarkan H+ tersebut melalui eksresi ginjal (Gaw, 2012).
Empat pasang atau sistem bufer utama dalam tubuh yang membantu memelihara pH agar tetap konstan adalah:
1.      Sistem bufer asam karbonat-bikarbonat (NaHCO3 dan H2CO3)
2.      Sistem bufer fosfat monosodium-disodium (Na2HPO4 dan NaH2PO4)
3.      Sistem bufer oksihemoglobin-hemoglobin dalam eritrosit (HbO2 dan HHb)
4.      Sistem bufer protein (Pr- dan HPr)
Sistem bufer fosfat merupakan suatu bufer yang penting dalam eritrosit dan sel tubulus ginjal. Ion H+ yang diekskesi dalam urine, dibufer oleh fosfat, dan disebut sebagai asam yang dapat tertitrasi.
Untuk menganalisis adanya fungsi bufer fosfat dalam tubuh menggunakan rumus perhitungan persamaan Henderson-Hasselbalch. Selain itu juga menggunakan rumus untuk kondisi umum pH = pKa + log ( [A-]/[HA]).
      Dapar fosfat sangat berguna dalam cairan intraseluler sebab besarnya konsentrasi fosfat dalam cairan ini beberapa kali besarnya konsentrasi fosfat dalam cairan ekstraseluler, dan juga oleh karena besarnya pH cairan intraseluler biasanya lebih dekat ke besarnay pK sistem dapar fosfat daripada ke besarnya pH cairan ekstraseluler (Guyton, 1994).



 
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Bufer Fosfat
Sistem bufer fosfat merupakan suatu bufer yang penting dalam eritrosit dan sel tubulus ginjal. Ion H+ yang diekskesi dalam urine, dibufer oleh fosfat, dan disebut sebagai asam yang dapat tertitrasi (Guyton, 2012).
Anion fosfat terlibat dalam metabolisme sel maupun regulasi neuromuskuler dan fungsi hematologi. Reabsorpsi fosfat dalam tubuh renal berbanding terbalik dengan kadar kalsium. Ini berarti bahwa peningkatan jumlah fosfor yang dieksresi dalam urine akan memicu reabsorpsi kalsium dan demikian pula sebaliknya (Kowalak, 2012).
Buffer fosfat merupakan sistem dapar di sistem perkemihan dan cairan intrasel. Sistem dapar kimia hanya mengatasi ketidakseimbangan asam-basa sementara. Jika dengan bufer kimia tidak cukup memperbaiki ketidakseimbangan, maka pengontrolan pH akan dilanjutkan oleh paru-paru yang berespon secara cepat terhadap perubahan kadar ion H dalam darah akinat rangsangan pada kemoreseptor dan pusat pernafasan, kemudian mempertahankan kadarnya sampai ginjal menghilangkan ketidakseimbangan tersebut (Sagiana, 2005).

B.     Mekanisme Bufer Fosfat
Ginjal mampu meregulasi ketidakseimbangan ion H secara lambat dengan menskresikan ion H dan menambahkan bikarbonat baru ke dalam darah karena memiliki dapar fosfat dan amonia.
Proses eliminasi dilakukan oleh paru dan ginjal. Mekanisme paru dan ginjal dalam menunjang kinerja system buffer adalah dengan mengatur sekresi, ekskresi, dan absorpsi ion hydrogen dan bikarbonat serta membentuk buffer tambahan (fosfat,
ammonia).
Untuk jangka panjang, kelebihan asam atau basa dikeluarkan melalui ginjal dan paru sedangkan untuk jangka pendek, tubuh dilindungi dari perubahan pH dengan system buffer. Mekanisme buffer tersebut bertujuan untuk mempertahankan pH darah antara 7,35- 7,45 (Sagiana, 2005).
Cara kerja sistem dapar fosfat hampir identik dengan sistem dapar bikarbonat, namun sistem ini terdiri atas dua elemen berikut: H2PO4- dan HPO42-. Bila pada campuran yang mengandung kedua bahan ini ditambahkan asam kuat, misalnya asam hidroklorida, maka akan terjadi reaksi berikut:
HCI + Na2HPO4 → NaH2PO4 + NaCl

Hasil akhir dari reaksi ini adalah asam hidrokloridanya akan dipindahkan, dan pada tempatnya akan ditambahkan sejumlah NaH2PO4 yang terbentuk. NaH2PO4 sebenarnya hanya merupakan asam lemah, sehingga asam kuat yang ditambahkan tadi akan diubah menjadi asam yang sangat lemah, dan pHnya relatif akan berubah sedikit.
Sebaliknya, bila pada sistem dapar ditambahkan asam yang kuat, maka akan terjadi reaksi berikut:

NaOH + NaH2PO4 → Na2HPO4 + H2O

Pada reaksi ini natrium hidroksida akan terurai menjadi air dan Na2HPO4. Jadi, bila pada basa Na2HPO4 yang sangat lemah itu ditambahkan basa yang sangat kuat, maka pH hanya sedikit bergeser ke arah sisi alkali.
Lihatlah sistem bufer fosfat sebagai contoh. Sistem bufer fosfat terdiri dari ion dihidrogen fosfat (H2PO4-) yang merupakan pemberi hidrogen (asam) dan ion hidrogen fosfat (HPO4-) yang merupakan penerima hidrogen basa. Kedua-duanya ion tersebut berada dalam keseimbangan dan hubungannya bisa ditulis sebagai rumus berikut:





H2PO4-                           H+ + HPO4 2-
         Ketika ion-ion hidrogen ditambah dalam larutan yang ditahankan oleh bufer fosfat, keseimbangan yang diatas akan geser ke arah kiri, (yaitu,ion H+ yang kelebihan akan bereaksi dengan ion hidrogen fosfat dan menghasilkan ion dihidrogen fosfat). Ketika larutan semakin alkali (basa), keseimbangan diatas akan kearah kanan (yaitu, ion OH- yang kelebihan akan bereaksi dengan ion hidrogen dan menghasilkan air). Konstan keseimbangan (Ka) untuk bufer fosfat adalah :

Ka = [H+] [HPO42-]   kalau disusun kembali  [H+] =     [H2PO4-]
                        [H2PO4-]                                                          [HPO42-]
                     Bila diuraikan didapat rumus

         -log [H+] = -log Ka x –log [H2PO4-]
                                                                 [HPO42-]
              Atau pH = p Ka + log ([HPO42-]/H2PO4-])
         Rumus tersebut bagi kondisi umum adalah pH = pKa + log ([A-] /[HA]) dan disebutkan rumus Henderson-Hasselbalch.



                     Ada tiga macam ion fosfat, dan nilai pKa adalah seperti berikut: 
                    
Ion fosfat
H3PO4
H2PO4
HPO42-
Nilai pKa
~2
~7
~12

         Pada 250C, nilai Ka untuk buffer fosfat adalah 6,23 x 10-8. Ketika kadar asam (H2PO4-) dan basa (HPO42-) sama, pH adalah sama dengan pK­a atau –log (6,23x10-8) = 7,21. Larutan bufer monofosfat dapat menahannya dengan pHnya dekat dengan nilai 7,2.
Sistem dapar fosfat mempunyai pK sebesar 6,8, yang tidak jauh berbeda dari nilai normal pH cairan tubuh yakni 7,4, sehingga akan mempermudah sistem fosfat bekerja pada daya daparnya yang maksimal. Namun, walaupun sebenarnya sistem dapar ini bekerja pada bagian yang  baik dari kurva dapar, jumlah konsentrasi dalam cairan ekstraseluler hanyalah seperti duabelas dari konsentrasinya yang ada dalam sistem bikarbonat. Oleh karena itu, daya dapar totalnya dalam cairan ekstraseluler jauh lebih sedikit daripada daya bikarbonat.
Sebaliknya, sistem dapar fosfat sangatlah penting dalam cairan tubuli ginjal oleh karena dua alasan: Pertama, biasanya fosfat sangat pekat dalam tubulus, sehingga juga akan sangat meningkatkan besarnya daya dapar sistem fosfat. Kedua, cairan tubulus biasanya menjadi lebih asam daripada cairan ekstraseluler, sehingga batas kerja dari dapar akan dibawa lebih ke nilai pK dari sistem.

C.    Fungsi dapar Fosfat
Dapar fosfat juga sangat berguna dalam cairan intraseluler sebab besarnya konsentrasi fosfat dalam cairan ini beberapa kali besarnya konsentrasi fosfat dalam cairan ekstraseluler, dan juga oleh karena besarnya pH cairan intraseluler biasanya lebih dekat ke besarnya pK sistem dapar fosfat daripada ke besarnya pH cairan ekstraseluler (Guyton, 1994). Selain itu bufer fosfat juga berguna dalam untuk menjadi energi pada metabolisme sel, bersama dengan ion kalsium meningkatkan kekuatan dan kekerasan tulang, masuk dalam struktur genetik yaitu DNA dan RNA dan membantu dalam pengeluaran melalui urine.






 
BAB III
KESIMPULAN

Bufer fosfat merupakan suatu bufer yang penting dalam eritrosit dan sel tubulus ginjal. Ion H+ yang diekskesi dalam urine, dibufer oleh fosfat, dan disebut sebagai asam yang dapat tertitrasi (Guyton, 2012).
Untuk menganalisis adanya fungsi bufer fosfat dalam tubuh menggunakan rumus perhitungan persamaan Henderson-Hasselbalch. Selain itu juga menggunakan rumus untuk kondisi umum pH = pKa + log ( [A-]/[HA]).
Dapar fosfat sangat berguna dalam cairan intraseluler sebab besarnya konsentrasi fosfat dalam cairan ini beberapa kali besarnya konsentrasi fosfat dalam cairan ekstraseluler, dan karena besarnya pH cairan intraseluler biasanya lebih dekat ke besarnya pK sistem dapar fosfat daripada ke besarnya pH cairan ekstraseluler (Guyton, 1994). Dapar fosfat juga menjadi energi pada metabolisme sel, bersama dengan ion kalsium meningkatkan kekuatan dan kekerasan tulang, masuk dalam struktur genetik yaitu DNA dan RNA dan membantu dalam pengeluaran melalui urine.



 
DAFTAR PUSTAKA

·         Wilson, Price. 2006. Patofisiologi: Konsep Kinis dan Proses – Proses Penyakit. Penerbit Buku Kedokteran: Jakarta.
·         Guyton. 2012. Fisologi manusia dan Mekanisme Penyakit. Penerbit Buku Kedokteran: Jakarta.
·         Graw, Allan dkk. 2012. Biokimia Klinis. Penerbit Buku Kedokteran: Jakarta.
·         Guyton. 2012. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Penerbit Buku Kedokteran: Jakarta.
·         Kowalak, Welsh. 2012. Buku Ajar Patofisiologi. Buku Penerbit Kedokteran: Jakarta.




Rabu, 03 April 2013

INSTRUMENTASI LABORATORIUM KESEHATAN



I.       Pembagian Alat Laboratorium Laboratorium berdasarkan macam-macam alat dan kegunaannya :

  1. Alat-alat optik, misalnya :
§  Mikroskop à
Melihat benda/zat yang sangat kecil
§  Polarimeter à
Cara analisa berdasarkan pengukuran sudut putaran sinar terpolarisasi oleh senyawa transparan dan optis aktif
§  Refraktometer à
Mengukur Indeks bias suatu larutan dan kadar suatu zat
  1. Alat-alat listrik, misalnya :
§  SpektrioFotometer à
Alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diabsorbsi.
§  Potensiometer à
Penentuan aktivitas ion melalui pengukuran bebas arus potensial elektrik antar perubahan indikator dan elektro pembanding
§  Waterbath à
Memanaskan suatu bahan / material berupa pelarut organik pada suhu yang konstan tidak lebih dari 100oC dan tekanan udara 1 atm
§  Incubator à
Alat untuk inkubasi suatu bahan atau zat
§  Oven à
Alat untuk sterilisasi Kering , panas dan tanpa tekanan.
§  Autoclave à
Alat steril yang menggunakan uap air yang bertekanan

  1. Alat-alat mekanik, misalnya :
§  Neraca à
Alat untuk mengukur massa suatu benda
§  Centrifuge à
Alat untuk memutar suatu benda atau bahan dengan kecepatan sudut yang tinggi sehingga timbul percepatan radial yang setara dengan percepatan gravitasi
§  Automatic pipet
  1. Alat-alat Ukur, misalnya :
§  Viscometer à
Untuk mengukur kekentalan suatu larutan
  1. Alat-alat gelas, misalnya :
§  Buret
§  Ekstrasi
§  Evaporator dan
§  alat-alat gelas lainnya.

II.   Pengukuran metode/ tehnik biasanya berdasarkan sifat fisika, miskipun metode tersebut sangat tergantung pada sifat kimia bahan yang dianalisa.

Pengukuran berdasarkan Sifat fisika :

No
Sifat fisika
Metode
1.
Massa
Gravimetri
2.
Volume
Volumetri / titrimetri
3.
Penyerapan cahaya
Spektrofotometri, kolorimetri
4.
Pancaran cahaya
Spectroscopi emisi,
Fotometri nyala, dan
Fluorescen
5.
Penyebaran cahaya
Turbidimetri
6.
Pembiasan cahaya
Refraktometri
7.
Pemutaran bidang cahaya
Polarimetri
8.
Tegangan listrik
Potensiometri
9.
Hantaran listrik
Konduktometri
10.
Arus listrik
Polarogravi, Amperometri